ASKEP TRAUMA CAPITIS (CEDERA KEPALA)
A. Latar Belakang
Dengan
berkembangnya teknologi di berbagai bidang kehidupan, tidak berarti
bahwa resiko tinggi kecelakaan pada manusiapun tidak ada. Banyak
kecelakaan yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas sehari-hari. salah
satu trauma yang memiliki tingkat resiko paling tinggi ialah resiko
cedera kepala, karena sangat berkaitan erat dengan susunan saraf pusat
yang berada di rongga kepala.
Data
statistik menunjukkan bahwa tingkat trauma kepala sangat tinggi yang
diakibatkan sebagai akibat kurang kewaspadaan dari masing-masing
individu. Dari semua kasus cedera kepala di Amerika Serikat 49%
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (sepeda motor) dan jatuh
merupakan penyebab ke dua (keperawatan kritis, Hudak & Gallo) serta
dua kali lebih besar pada pria dibandingkan wanita sedangkan di
Indonesia belum ada penelitian yang menunjukkan presentasi kematian yang
diakibatkan oleh cedera kepala, tetapi dari pengamatan yang dilakukan
banyak kasus cedera kepala disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.
Cedera
kepala ringan pada umumnya tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga
masyarakat tidak langsung mencari bantuan medis, padahal sekecil apapun
trauma di kepala bisa mengakibatkan gangguan fisik, mental bahkan
kematian.
Untuk
mengantisipasi keadaan di atas maka masyarakat harus diberi
penyuluhan-penyuluhan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap trauma
kepala.
Peran
dari berbagai pihak seperti kepolisian sangat penting karena kecelakaan
terjadi biasanya didahului dengan pelanggaran lalu lintas, sehingga
pendidikan, tata tertibdi jalan raya perlu ditingkatkan.
Oleh
karena itu peran perawat tidak kalah pentingnya dalam penanganan trauma
kepala karena perawat bisa melakukan penyuluhan maupun tindakan
observasi untuk menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh cedera
kepala.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Agar lebih memahami secara mendalam tentang trauma kapitis sehingga dapat memberi perawatan yang akurat pada pasien.
2. Memperoleh pengalaman nyata dan menghubungkan dengan teori yang telah didapat.
C. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini menggunakan :
1. Studi kepustakaan dengan mempelajari literatur yang berhubungan dengan Trauma Kapitis.
2. Studi kasus yaitu dengan pengamatan langsung pada pasien trauma kapitis.
D. Sistematika Penulisan
Terdiri
dari 5 bab yang diawali dengan kata pengantar dan daftar isi. Dalam Bab
I memuat latar belakang, tujuan, metode dan sistematika penulisan. Bab
II berisi tentang tujuan teoritis; konsep medik meliputo definisi,
anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, test diagnostik, terapi dan
pengelolaan medik serta komplikasi. Sedangkan konsep asuhan keperawatan :
pengkajian, diagnosa perawatan, perencanaan keperawatan dan perencanaan
pulang. Bagian akhir bab II berisi tentang patoflowdiagram. Bab III
pengamatan kasus, memuat tentang kasus yang diamati di lapangan dan
pengkajian sampai evaluasi termasuk nilai laboratorium dan obat-obatan
yang diberikan. Bab IV pembahasan kasus menghubungkan antara teori dan
kasus yang diamati. Bab V berisi kesimpulan setelah mengamati pasien
dilapangn dan teori. Bagian akhir dilampirkan daftar pustaka yang
menjadi referansi dalam penyususnan makalah ini.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Medik
I. Definisi
Trauma
Capitis adalah cedera kepala yang menyebabkan kerusakan pada kulit
kepala, tulang tengkorak dan pada otak. (Brunner and Suddarth Medikal
Surgical Nursing).
II. Anatomi Fisiologi
Otak
merupakan satu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat
komputer dari semua alat tubuh. Otak terdapat dalam rongga tengkorak
yang melindungi otak dari cedera.
Berdasarkan
daerah atau lobusnya otak terbagi menjadi 4 lobus yaitu : frontalis
(untuk berpikir) temporalis (menerima sensasi yang datang dari telinga),
parietalis (sensasi perabaan, perubahan temperatur) oksipitalis
(menerima sensasi dari mata).
Otak
selain dilindungi oleh tengkorak juga dilindungi selaput yang disebut
munigen berupa jaringan serabut penghubung yang melindungi, mendukung
dan memelihara otak. Munigen terdiri dari 3 lapisan yaitu:
1. Durameter
Membran
luar yang liat, tebal, tidak elastis.Dura melekat erat dengan permukaan
dalam tengkorak oleh karena bila dura robek dan tidak segera diperbaiki
dengan sempurna maka akan timbul berbagai masalah. Dura mempunyai
aliran darah yang kaya. Bagian tengah dan posterior di suplay oleh
arteri munigen yang bercabang dari arteria karotis interna dan menyuplay
fasa arterior arteria munigen yaitu cabang dari arteria oksipitalis
menyuplay darah ke fasa posterior.
2. Araknoid
Merupakan
bagian membran tengah bersifat tipis, halus, elastis dan menyerupai
sarang laba-laba. Membran ini berwarna putih karena tidak dialiri darah.
Pada dinding araknoid terdapat pleksus khoroid yng bertanggung jawab
memproduksi cairan serebrospinal (CSS). Terdapat juga membran araknoid
villi yang mengabsorbsi CSS. Pada orang dewasa normal CSS yang
diproduksi 500 ml perhari, tetapi 150 ml diabsorbsi oleh villi.
3. Piamater
4.
Membran yang paling dalam, berupa dinding yang tipis, transparan yang
menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah otak dan sangat kaya
dengan pembuluh darah.
Otak
merupakan organ kompleks yang dominasi cerebrum. Otak merupakan
struktur kembar yaitu lateral simetris dan terdiri dari 2 bagian yang
disebut hemisferium.
Belahan kiri dari cerebrum berkaitan dengan sisi kanan tubuh dan belahan kanan cerebrum berkaitan dengan sisi kiri tubuh.
Otak terbagi menjadi 3 bagian besar :
1. Cerebrum (otak besar)
Serebrum
terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia grisea terdapat
pada bagian luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi dinding
serebrum bagian dalam. Pada prinsipnya komposisi substansia grisea yang
terbentuk dari badan-badan sel saraf memenuhi kortex serebri, nukleus
dan basal gangglia. Substansia alba terdiri dari sel-sel syaraf yang
menghubungkan bagian–bagian otak yang lain. Sebagian besar hemisfer
serebri (telesefalon) tensi jaringan SSP. Area inilah yang mengontrol
fungsi motorik tertinggi yaitu terhadap fungsi individu dan
intelegensia.
2. Batang otak (trunkus serebri), terdiri dari :
•
Diensefalon, bagian batang otak paling atas terdapat di antara serebelum
dan mesensepalon. Diensepalon berfungsi untuk vasokontruktor
(mengecilkan pembuluh darah), respiratory (membantu proses pernapasan),
mengontrol kegiatan reflek dan membantu pekerjaan jantung.
• Mesensefalon, berfungsi sebagai membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata, memutar mata dan pusat pergerakan mata.
•
Pons varoli, sebagai penghubung antara kedua bagian serebellum dan juga
medula oblongata dengan serebellum pusat saraf nervus trigeminus.
•
Medula oblongata, bagian batang otak yang paling bawah yang berfungsi
untuk mengontrol pekerjaan jantung, mengecilkan pembuluh darah, pusat
pernapasan dan mengontrol kegiatan refleks.
• Serebelum
Terletak
dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai
atap tenda yaitu tentoreum yang memisahkan dari bagian posterior
serebrum.
Semua
aktivitas serebrum berada dibawah kesadaran fungsi utamanya adalah
sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot,
serta mengubah tenus-tenus kekuatan kontraksi untuk mempertahankan
keseimbangan dan sikap tubuh.
• Diensefalon
Istilah
yang digunakan untuk menyatakan struktur-struktur disekitar vertikel
dan membentuk inti bagian dalam serebrum. Diensefalon memproses rangsang
sensorik dan membantu memulai atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap
rangsang-rangsang tersebut.
Diensefalon dibagi menjadi 4 wilayah yaitu :
a. Talamus
Berfungsi sebagai pusat sensorik primitif (dapat merasakan nyeri,
tekanan, rabaan getar dan suhu yang ekstrim secara samar-samar).
Berperan penting dalam integrasi ekspresi motorik oleh karena hubungan
fungsinya terhadap pusat motorik utama dalam korteks motorik serebri,
serebelum dan gangglia basalis.
b. Hipotalamus
Letak dibawah talamus
Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan
saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi.
Berperan penting dalam pengaturan hormon (hormon anti diuretik dan
okstoksin disintesis dalam nukleus yang terletak dalam hipotalamus).
Pengaturan cairan tubuh dan susunan elektrolit, suhu tubuh, fungsi
endokrin dari tingkah laku seksual dn reproduksi normal dan ekspresi
ketenangan atau kemarahan, lapar dan haus.
c. Subtalamus
Merupakan
nukleus ekstrapiramidal diensefalon yang penting fungsinya belum dapat
dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus dapat menimbulkan
diskinesia dramatis yang disebut hemibalismus.
d. Epitalamus
Berupa
pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap diensefalon. Epitalamus
berhubungan dengan sistem limbik dan agaknya berperan pada beberapa
dorongan emosi dasar dan ingarasi informasi olfaktorius.
III. Etiologi
a. Kecelakaan lalu lintas/industri
b. Jatuh
c. Benturan benda tajam/ tumpul
d. Trauma pada saat kelahiran
e. Benturan dari objek yang bergerak (cedera akselerasi)
f. Benturan kepala pada benda padat yang tidak bergerak (cedera deselerasi)
IV. Patofisiologi
-
Trauma kapitis menyebabkan cedera pada kulit kepala, tulang kepala,
jaringan otak. Cedera otak bisa berasal dari trauma langsung dan trauma
tidak langsung pada kepala.
-
Kerusakan neurologis langsung disebabkan oleh suatu benda atau serpihan
tulang yang menembus dan merobek jaringan otak, oleh pengaruh suatu
kekuatan atau energi yang diteruskan ke otak.
- Riwayat kerusakan yang disebabkan oleh beberapa hal tergantung pada kekuatan yang menimpa.
Kekuatan
akselerasi dan deselerasi menyebabkan isi dalam tengkorak yang keras,
bergerak, dengan demikian memaksa otak membentur permukaan dalam
tengkorak pada tempat yang berlawanan (counter coup) karena ada benturan
keras ke otak maka bagian ini dapat merobek dan mengoyak jaringan,
kerusakan diperhebat bila ada rotasi tengkorak. Bagian otak yang paling
keras mengalami kerusakan adalah bagian anterior dari lobus frontalis
dan temporalis, bagian posterior lobus oksipitalis dan bagian atas
mesencefalon.
Efek
sekunder trauma yang menyebabkan perubahan neurologik berat disebabkan
oleh reaksi jaringan terhadap cedera. Setiap kali jaringan mengalami
cedera, responnya dapat mempengaruhi perubahan isi cairan intrasel dan
ekstrasel. Peningkatan suplay darah ke tempat cedera dan mobilisasi
sel-sel untuk memperbaiki kerusakan sel. Neuron dan sel-sel fungsional
dalam otak tergantung dari suplay nutrien yang konstan dalam bentuk
glukosa dan O2 dan sangat peka terhadap cedera metabolik apabila suplay
terhenti. Sebagai akibat cedera, sirkulasi otak dapat kehilangan
kemampuannya untuk mengatur volume darah yang tersedia, menyebabkan
iskemia pada beberapa tempat tertentu dalam otak.
V. Klasifikasi Trauma Capitis
a.
Luka/lecet pada kulit kepala yang paling sering terjadi, karena kulit
kepala terdiri dari banyak pembuluh darah dengan kemampuan yang kurang,
kebanyakan lukanya disertai dan bercampur dengan perdarahan komplikasi
utama yang terjadi pada kulit kepala adalah infeksi.
b. Trauma Kapitis terdiri dari :
1) Trauma Kapitis Terbuka
Adalah
suatu keadaan dimana tengkorak sudah fraktur dan bagian duramaternya
terbuka dan tergores. Ada jenis fraktur kepala terbuka yang mengenai
dasar tengkorak, yaitu fraktur basis kranii yang ditandai dengan :
a) Echymosis disekitar Os mastoideus
b) Hemotimpanum yaitu perdarahan yang keluar dari telinga.
c) Echymosis periorbital (black eyes) walaupun trauma tidak ada pada mata.
d) Rinorrhea atau ottorhea
2) Trauma Kapitis Tertutup
a) Concussion/commotio/memar
Adalah
banyak cedera yang mengakibatkan kerusakan fungsi neurologi tanpa
terjadinya kerusakan struktur, untuk sementara kehilangan kesadaran
dalam beberapa menit atau 2-3 jam. Fenomena ini memerlukan pengawasan
dan orientasi secara bertahap. Dapat juga disertai dengan pusing dan
sakit kepala, karakteristik gejala commotio, sakit kepala, pusing,
lelah, amnesia retrograde dan ketidakmampuan berkonsentrasi.
b) Contusio
Adalah
cedera kepala yang termasuk didalamnya luka memar, perdarahan dan
edema. Keadaan ini lebih serius daripada commotio serebri. Pasien dapat
tidak sadar dalam waktu yang tidak tentu (2-3 jam, atau bulanan).
Amnesia retrograde lebih berat dan jelas. Gejala neurologis, parese,
cedera. connorio ini biasanya dapat terlihat pada lobus frontalis jika
dilakukan lumbal funksi maka liquor serebrospinal hemoragic.
c) Laceratio Cerebri (trauma kapitis berat)
Adanya
sobekan pada jaringan otak karena tekanan atau fraktur dan luka
tusukan. Dapat terjadi perdarahan, hematoma dan edema cerebral. Akibat
perdarahan dapat terjadi ketidaksadaran, hemiplegi dan dilatasi pupil,
cerebral laceratio diklasifikasikan berdasarkan lokasi benturan yaitu :
Coup, counter coup lesi tidak langsung terjadi pada tempat pukulan melainkan terlihat pada bagian belakangnya.
VI. Tanda dan Gejala
a. Commotio Cerebri
- Tidak sadar selama kurang atau sama dengan 10 menit.
- Mual dan muntah
- Nyeri kepala (pusing)
- Nadi, suhu, TD menurun atau normal
b. Contosio Cerebri
- Tidak sadar lebih dari 10 menit
- Amnesia anterograde
- Mual dan muntah
- Penurunan tingkat kesadaran
- Gejala neurologi, seperti parese
- LP berdarah
c. Laserasio Serebri
- Jaringan robek akibat fragmen taham
- Pingsan maupun tidak sadar selama berhari-hari/berbulan-bulan
- Kelumpuhan anggota gerak
- Kelumpuhan saraf otak
VII. Test Diagnostik
a. CT Scan (dengan atau tanpa kontras)
Mengidentifikasi adanya perdarahan, menentukan ukuran vertikel, pergeseran jaringan otak
b. MRI (Magnetik Resonance Imaging)
Sama dengan CT Scan dengan atau tanpa kontral
c. PET (Positron Emission Tomography) menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme otak.
d. Echoencephalograpi : melihat keberadaan dan berkembangnya gelombang patologis.
e. Fungsi lumbal/listernograpi : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarachnoid.
f. X-ray : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang, pergeseran struktur dari garis tengah, adanya frakmen tulang.
g. Cek elektrolit darah : untuk mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK.
h. Analisa Gas Darah : untuk mendeteksi jumlah ventilasi dan oksigenisasi
i. EEG : untuk melihat aktifitas dan hantaran listrik di otak
j. Pneumoenchephalografi dengan memasukkan udara ke dalam ruangan otak apakah ada penyempitan.
k. Darah lengkap untuk mengetahui kekuatan hemoglobin dalam mengikat O2.
VIII. Therapi / Pengelolaan Medik
Pengobatan yang diberikan pada pasien trauma kapitis :
1. Pengobatan konservatif
- Bedrest total di RS
- Antikonvulsan (anti kejang)
- Diuretik
- Corticosteroid (mengurangi edema)
- Barbiturat (penenang)
- Antibiotik (mencegah infeksi)
- Analgetik (mengurangi rasa takut).
2. Tindakan observatif
- Observasi pernapasan
- Monitor tekanan intrakranial
- Monitor cairan elektrolit
- Monitor tanda-tanda vital
3. Tindakan operatif bila ada indikasi
IX. Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul pada pasien yang mengalami trauma kapitis yaitu:
a.
Shock disebabkan karena banyaknya darah yang hilang atau rasa sakit
hebat. Bila kehilangan lebih dari 50% darah dapat mengakibatkan
kematian.
b. Peningkatan tekanan intrakranial, terjadi pada edema cerebri dan hematoma dalam tulang tengkorak.
c. Meningitis, terjadi bila ada luka di daerah otak yang ada hubungannya dengan luar.
d. Infeksi/kejang, terjadi bila disertai luka pada anggota badan atau adanya luka pada fraktur tulang tengkorak.
e.
Edema pulmonal akibat dari cedera pada otak yang menyebabkan adanya
peningkatan tekanan darah sistemik sebagai respon dari sistem saraf
simpatis pada peningkatan TIK. Peningkatan vasokontriksi tubuh ini
menyebabkan lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru. Perubahan
permeabilitas pembuluh darah paru berperan dalam proses memungkinkan
cairan berpindah ke dalam alveolus.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pola pemeliharaan kesehatan dan persepsi kesehatan.
• Riwayat trauma saat ini dan benturan yang terjadi secara tidak sengaja.
• Fraktur atau terlepasnya persendian.
• Gangguan penglihatan
• Kulit luka kepala/abrasi, perubahan warna (tanda-tanda trauma)
• Keluarnya cairan dari telinga dan hidung
• Gangguan kesadaran
• Demam, perubahan suhu tubuh
b. Pola nutrisi metabolik
• Mual, muntah
• Sulit menelan
c. Pola eliminasi
• Inkontinensia atau retensi kandung kemih.
d. Pola aktivitas
• Keadaan aktivitas : lemah, letih, lesu, kesadaran berubah, hemiparase, kelemahan koordinasi otot-otot kejang
• Keadaan pernapasan: apnea, hyperventilasi, suara napas stridor, rochi, wheezing.
e. Pola istirahat
• Pasien mengatakan intensitas sakit kepala yang tidak tetap dan lokasi sakit kepala.
f. Pola persepsi sensori kognitif
• Kehilangan kesadaran sementara.
• Pusing, pingsan
• Mati rasa pada ekstremitas
•
Perubahan penglihatan: diplopia, tidak peka terhadap reflek cahaya,
perubahan pupil, ketidakmampuan untuk melihat ke segala arah.
• Kehilangan rasa, bau, pendengaran dan selera
• Perubahan dalam kesadaran, koma.
• Perubahan status mental (perhatian, emosional, tingkah laku, ingatan, konsentrasi).
• Wajah tidak simetris
• Tidak ada reflek tendon
• Tidak mampu mengkoordinir otot-otot dan gerakan, kelumpuhan pada salah satu anggota gerak otot.
• Kehilangan indra perasa pada bagian tubuh.
• Kesulitan dalam memahami diri sendiri.
g. Pola persepsi dan konsep diri
• Adanya perubahan tingkah laku (halus dan dramatik).
• Kecemasan, lekas marah, mengingau, gelisah, bingung.
B. KONSEP KEPERAWATAN
NO
|
DATA
|
DIAGNOSA KEPRAWATAN
|
TUJUAN
|
RENCANA KEPERAWATAN
|
RASIONAL
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
DS :
- Klien mengatakan bengakak pada bagian kepala.
- Klien mengatakan nyeri/pusing di daerah kepala
DO
- Ekspresi wajah meringis
- KU lemah
DS :
- Klien mengatakan nyeri di daerah kepala
DO
- Ekspresi wajah meringis
DS :
- Klien mengeluh sesak
- Klien mengeluh batuk berlendir
DO :
- Klien nampak sesak
- Klien nampak menggunakan bantuan pernapasan
- Klien nampak batuk berdahak.
DS :
- Klien mengeluh malas makan
- Klien mengeluh mual dan muntah
DO :
- KU lemah
- Porsi makan tidak di habiskan
DS :
- Klien mengeluh tidak dapat menggerakkan bagian tubuhnya
- Klien mengatakan aktivitas di bantu oleh keluarga dan perawat
DO
- KU lemah
- Klien nampak bedrest total
- Aktivitas di bantu oleh keluarga dan perawat
DS :
- Klien mengatakan tampak kemerahan pada bagian luka
- Klien mengatakan badannya panas
DO :
- Ku lemah
- Tampak kemerahan pada bagian luka.
- S : 380C
DS :
- Klien mengatakan bingung dimana dia sekarang berada
- Klien mengatakan tidak merespon tentang apa yang dikatkan orang sekitarnya.
DO :
- Klien tampak sering mengalihkan perhatiannya.
- Terjadi disorientasi wktu,tempat,orang dan lingkungan pada klien.
- Terjadi perubahan kepribadian pada klien.
|
Perubahan Perubahn Perfusi Jaringan Otak b/d Adanya edema otak, hematom dan perdarahan
Gangguan rasa nyaman nyeri kepala b/d kerusakan jaringan otak dan perdarahan serta meningkatnya tekanan intrakranial
Ketidak efektifan jalan nafas b/d kerusakan neurovaskuler cedera pada pusat pernapasan otak.
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d perubahan kemampuan untuk
mencerna makanan akibat penurunan tingkat kesadaran.
Keterbatasan mobilitas fisik b/d kelemahan dan penurunan kekuatan otot tubuh
Resiko infeksi b/d trauma jaringan ruasknya kulit dan prosedur invasi
Perubahan proses pikir b/d perubahan fisiologis / konflik psikologis.
|
Tidak terjadi perfusi jaringan serbral dan TTV dalam batas normal
Kebuthan rasa nyaman terpenuhi.
Mempertahankan pola napas normal dan efektif.
Kebutuhan nutrisi terpenuhi dan BB tetap dan tidak mengalami penurunan.
Pasien dapat melakukan aktivitas fisik secara bertahap dan tidak terjadi kontraktur
Tidak terjadi tanda-tanda infeksi, kemerahan, bengkak, dan peningkatan suhu tubuh.
Mempertahankan kembali orientasi mental dan orientasi biasanya dan berpartisipasi dalam aturan terapeutik.
|
1. Kaji status neurologik secara teratur, respon membuka mata, dan respon motorik serta bandingkan dengan nilai standar.
2. Monitor TTV tiap setengah sampai satu jam.
3. Evaluasi ukuran pupil, raspon mata terhadap cahaya, pergerakan bola mata dan refleks kornea.
4. Atur posisi kepala dan mengangkat kepala tempat tidur sesuai indikasi.
5. Evaluasi keadaan pupil catat ukuran, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi terhadap cahaya.
6. Penatalaksanaan pemberian
Ø Obat sesuai indikasi, cairan, & pemberian oksigen tambahan
Ø Pemeriksaan radiologi
Ø Rujuk ke perawatan yang lebih intensif
Ø Persiapan untuk pembedahan jika di perlukan.
1. Kaji lokasi nyeri dan intesitasnya.
2. Kaji TTV
3. Ajarkan relaksasi serta napas dalam.
4. Berikan posisi tidur datar tanpa bantal.
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pembaerian analgetik.
1. Kaji frekuensi irama kedalaman pernapasan untuk mengetahui perlunya ventilasi mekanis.
2. Auskultasi suara napas, perhatikan hipoventilasi dan adanya suara napas tambahan yang tidak normal.
3. Lakukan pengisapan lendir (suction) ekstra hati-hati 10-15 detik dan mencatat karakter warna dan kekeruhan dari secret
4. Kolaborasi : pemeriksaan radiologi ulang, analisa gas darah, fisioterapi dada jika ada indikasi.
1. Kaji kemampuan pasien untuk menelan dan mengunyah batuk dan mengatasi sekresi.
2. Auskultasi bising usus, cepat, adanya penurunan suara yang hiperaktif.
3. Timbang BB tiap hari atau sesuai dengan indikasi.
4. Kolaborasi dengan ahli diet.
5. Kolaborasi dengan dokter tentang prosedur respon yang lain ubtuk intake nutrisi.
1. Kaji kemampuan fisik untuk untuk mengidentifikasi kekuatan otot / kelemahan anggota gerak.
2. Kaji tingkat kemampuan mobilisasi.
3. Bantu
pasien melakukan latihan gerak aktif atau pasif pada semua
ekstremitas untuk meminimalkan atrofi otot , meningkatkan sirkulasi
membantu mencegah kontraktur.
4. Atur posisi pasien setiap 2 jam untuk mengurangi penekanan pada bagian tubuh tertentu.
5. Memberikan perawatan kulit, massage dan menjaga agar alat tenun tetap kering dan bersih.
6. Kolaborasi dengan dokter fisioterapi dan pemberian obat relaksan otot dan anti spasmodik sesuai indikasi.
1. Observasi TTV setiap 1-2 jam
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
3. Observasi
daerah kulit yang mengalami kerusakan (spt : luka, bekas jahitan)
daerah yang terpasang alat invasi(spt : infus) catat adanya inflamasi.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik dan pemeriksaan laboratorium leukosit.
1. Kaji rentng perhatian, kebingungan dan dan ansietas (kecemasan) pasien
2. Beri
penjelasan mengenai prosrdur-prosedur dan tekankan kembali penjelasan
yang diberikan oleh sejawat lain beri informasi tentang proses
penyakit yang ada hubungannya dengan gejala yang muncul.
3. Terapkan komunikasi terapeutik / lingkungan terapeutik.
4. Hindari meninggalkan pasien sendrian ketika mengalami agitasi, gelisa, atau berontak.
5. Kolaborasi dangan dokter tentang program rehabilitasi sesuai indikasi.
|
1. Mengkaji
adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan
tekanan intrakranial dan bermanfaat dalam menentukan loksi perluasan
dan perkembangan kerusakan sistem sysraf pusat dan menentukan tingkat
kesadaran.
2. Untuk mengetahui intervensi selanjutnya.
3. Reaksi pupil diatur oleh syaraf kranial okulamotor III dan berguna untuk apakah batang otak masih baik.
4. Kepala
yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan
menghambat aliran darah ke vena yang selanjutnya akan meningkatkan
TIK.
5. Reaksi pupil diatur oleh kranialokulomotor III dan berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik.
6. - untuk memaksimalkan O2 pada daerah arteri dan membantu pencegahan hipoksia
- untuk melihat kembali tanda-tanda komplikasi yang berkembang ( spt : atelektasis / bronkopnemonia ).
1. Untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengivakuasi keefektifan dari terapi yang di berikan.
2. Memudahkan intervensi selanjutnya.
3. Diharapkan dapat terjadi relaksasi pada otot-otot sehingga suplay O2 kejaringan terpenuhi
4. Mencegah terjadinya TIK
5. Analgetik berfungsi memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidak dipersepsikan secara berlebihan.
1. Perubahan
menandakan awitan komplikasi pulmonal (umumnya mengikuti cedera otak)
atau menandakan lokasi atau luasnya keterlibatan otak.
2. Untuk mengetahui adanya infeksi paru.
3. Pengisapan biasanya dilakukan jika pasien koma
atau immobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya
sendiri. Penghisapan pada trakea lebih dalam harus dilakukan ekstra
hati-hati karena dapat menyebabkan/meningkatkan hipoksia yang
menimbulakan vasokontriksi akan berpengaruh cukup besar pada perfusi
serebral.
4. Untuk
mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti
atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi serebral atau
menandakan terjadinya infeksi paru
1. Untuk memudahkan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien terlindung dari aspirasi.
2. Fungsi
saluran pencernaan biasanya tetap baikpada kasus cedera kepala jadi
bising usus membantu dan menentukan respon untuk makan atau
berkembangnya komplikasi seperti paralitik ileus.
3. Mengevakuasi keefentifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.
4. Merupakan
sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan nalori\nutrisi
tergantung pada usia, BB, ukuran tubuh, keadaan penyakit sekarang
(trauma, penyakit jantung/masalah metabolisme.
5. Makanan
melalui selang mungkin di perlukan pada awal pemberian jika pasien
mampu menelan makanan lunak atau setengah cair mungkin lebih mudah di
berikan tanpa menimbulkan aspirasi.
1. Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan di lakukan.
2. Memudahkan intevensi selanjutnya.
3. Mempertahankan mobilitas dan fungsi sendi/posisi norman extremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis.
4. Perubahan
posisi yang teratur menyebabkan penyeburan terhadap berat badan dan
meningkatkan serkulasi pada seluruh tubuh jika ada harus di ubah
posisinya secara teratur dan posisi dari daerah yang sakit hanya dalam
jangka waktu yang sangat terbatas.
5. Meningkatkan serkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan resiko terjadinya
6. Menyeimbangkan
tekanan jaringan meningkatkan serkulasi dan membantu meningkatkan
arus balik vena untuk menurunkan resiko terjadinya trauma jaringan.
1. Memudahkan intervensi selanjutnya.
2. Merupakan cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial.
3. Deteksi
dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan
dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya.
4. Terapi
profilaktif di gunakan pada pasien yang mengalami trauma(perlukaan)
atau setelah di lakukan pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya
infeksi nosokomial.
1. Rentang
perhatian / keterampilan untuk berkonsetrasi mungkin mungkin memendek
secara tajam yang menyebabkan dan merupakan potensi terhadap
terjadinya ansietas yang mempengaruhi proses pikir pasien.
2. Kehilangan
struktur internal (perubahan dalam memori, alasan dan kemampuan untuk
membuat konseptual) menimbulkan ketakutan baik terhadap pengaruh
proses yang tidak diketahui maupun referensi terhadap informasi.
3. Menurunkan frustasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan / pola respon yang memanjang.
4. Ansietas dapat mengakibatkan kehilangan kontrol dan meningkatkan kepanikan. Dukungan dapat memberikan keterangan yang menurunkan ansietas dan resiko terjadinya trauma
5. Untuk mengatasi masalah, konsentrasi, memori, daya penilaian dan penyelesaian masalah.
|
DAFTAR PUSTAKA
1. Hasan Sjahrir, Ilmu Penyakit Saraf Neurologi Khusus, Dian Rakyat, Jakarta, 2004
2. Harsono, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 2005
3. Mahar Mardjono, Priguna Sidharta, Neurologi Klinis Dasar, dian Rakyat, Jakarta, 2004
4. Arif Mansjoer dkk Editor, Trauma Susunan Saraf dalam Kapita Selekta Kedokteran edisi Ketiga jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta, 2000
5. Robert L. Martuza, Telmo M. Aquino, Trauma dalam Manual of Neurologic Therapeutics With Essentials of Diagnosis, 3th ed, Litle Brown & Co, 2000
2. Harsono, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 2005
3. Mahar Mardjono, Priguna Sidharta, Neurologi Klinis Dasar, dian Rakyat, Jakarta, 2004
4. Arif Mansjoer dkk Editor, Trauma Susunan Saraf dalam Kapita Selekta Kedokteran edisi Ketiga jilid 2, Media Aesculapius, Jakarta, 2000
5. Robert L. Martuza, Telmo M. Aquino, Trauma dalam Manual of Neurologic Therapeutics With Essentials of Diagnosis, 3th ed, Litle Brown & Co, 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar